“Kenapa, Tuhan..?”

saya tidak tahu, kenapa begini kenapa begitu.. hehe seperti orang bingung saja..

seperti seorang anak yang berada di masa golden age, selalu bertanya ‘kenapa begini, kenapa begitu’ kalau begitu saya tak ubahnya seperti anak2 itu dong? tapi mereka lucu, belum ada dosa.. ah tak ada salahnya kalau Tuhan mengizinkan.. tapi tidak, buktinya sampai saat ini pikiran-pikiran itu masih hinggap di kepala saya.. oh, saatnya sadar lalu mengucapkan selamat tinggal pada masa saat tak ada dosa..

“terimalah ini, beberapa hal yang harus kau rasakan, hadapi, lewati..” begitu kata Tuhan..

“boleh saya interupsi Tuhan, saya tidak mampu..boleh saya lewati materi yang iniii saja..saya janji, materi yg lainnya saya akan dapatkan nilai sempurna..biar Kau tersenyum Tuhan..tp tidak yg ini..”

lalu Kau menjawab dengan lugas, “TIDAK, kau harus terima..tidak ada yg boleh kau lewati..”

“tolong Tuhaan, tidak yg ini..tidak untuk yang ini..” mencoba merayu Tuhan.. “T-I-D-A-K..” oh Tuhan masih tetap pendirian..

“oke lah bagaimana kalo saya ubah menjadi tidak untuk saat ini Tuhan..toloong, tidak untuk saat ini..atau dengan bahasa lain jangan sekarang Tuhaan..” mulai menawar bagai sebuah proses transaksi..

“tunggu sampai saya melakukan sesuatu Tuhan, tunggu satu hal..tuunggu saatnya Tuhan..”

“tahukah Kau, siapa yg Kau anggap Tuhan?”

“tentulah Engkau, Sang Penguasa langit dan bumi, Maha kasih dan sayang..”

“Sang pengenggam kehidupan?” Tuhan bertanya.. hmm, Tuhan mengujiku,

“yaa Tuhan, itulah Engkau..” “kalau begitu biarkan Aku berkehendak..” lalu Tuhan pergi..

dan saya hanya bisa tertunduk, tak terasa air mata lalu jatuh, Tuhan menolak permohonanku..

orang bilang, saya harus hadapi ini, oh bukan hanya orang-orang.. Tuhan pun berkata demikian.. orang bilang, saya harus sabar, ikhlas, tabah, dan sebagainya.. heyyy, tahukah kata-kata itu hanya mudah untuk diucapkan.. tapi tidak untuk dilakukan di saat ini.. saat orang yg berpengaruh dalam hidupmu, orang yang 20 tahun menemanimu, mencemaskanmu, merawatmu, berjuang untuk mu, mengasihimu, menjagamu, dan yg paling penting, orang yang ingin kau bahagiakan dengan tangan mu, orang yang ingin kau lihat tersenyum ketika kau menyelesaikan pendidikan dan bekerja dengan baik, orang yang ingin kau lihat menangis haru ketika melepasmu di hari pernikahanmu, orang yang kau harapkan untuk melihatnya bermain riang gembira dengan anak-anakmu kelak.. Tuhan ambil.. Tuhan angkat ke hadapan Nya dengan mengutus Izroil..

tidak, ketahuilah itu berat.. lalu, salahkah saya Tuhan apabila saya menjerit, menangis? kenapa saat ini Tuhan? saat semuanya belum terwujud.. bahkan hanya untuk mengukir senyumnya.. untuk membuatnya bahagia, untuk membuatnya bergumam dengan bangga ‘Ini anakku..’

kenapa Tuhan?

lalu Kau datang Tuhan, menghampiriku.. menyentuh, membelai, memelukku.. dan Kau bilang “Ia aman bersamaku..” lalu Kau pergi..

lalu Kau kirimkan aku, ‘malaikat-malaikat’ yang siap untuk menghiburku kapan saja..

sehingga ya saya terhibur, tp pertanyaan saya tetap ada.. “kenapa Tuhan?”

“kau akan menemukan sendiri alasannya, sayang..” Tuhan berbisik..

yaa, saya tidak bisa menolak kehendakMu Tuhan, dan saat saya sudah mulai dekat dengan ‘sabar, ikhlas, dan tabah’ pun karena saya tidak ingin mengecewakan para ‘malaikat’ yg Kau kirimkan, tidak ingin tiba2 mereka Kau ambil pula saat saya tak siap..

tapi, bolehkah saya lancang sedikit Tuhan? maukah Kau berjanji pada saya, bahwa, Ia, yg teramat saya sayangi aman bersama Mu? Tolong Tuhan, katakan Kau berjanji..

Tolong Tuhan, legakan hati saya, ringankan pikiran saya.. bila tak Kau izinkan aku untuk membahagiakannya, tolong ambil alih segala pengharapanku Tuhan.. pada Mu yang Maha Berkehendak, aku yakinkan itu semua pada Mu Tuhan..

Ia milik Mu, bahkan saya pun milik Mu.. Tuhan, tolong terima setiap lafaz doaku, walau saya bukanlah seorang yg pandai berdoa..

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo..

“Tuhan, kenapa?” Tak akan bisa terjawab sampai saya sendiri yang menghadap Mu..

Buat, Bapak.. mau tau ga pak, aku sayaang banget sama bapak..maafin aku ya pak! Bapak ga usah khawatir sama aku kaya yg pernah Bapak bilang ke Ibu..aku ga kenapa2..

Jakarta, Mampang, di dalam kamar, di atas kasur..

November, 28th 2009.. 1.14am

Allah, Kau lah sebaik-baiknya tempat meminta.. Kau lah Maha Berkehendak, Penggenggam jiwa.. Kau lah tempat aku kembali nanti.. πŸ™‚

 

-Balerinaa-

Advertisements

1 Comment

Filed under Rina Wulandari

One response to ““Kenapa, Tuhan..?”

  1. rinaa, aku iseng2 buka blog ini lagi untuk naro postingan aku yang terbaru, trus aku baca lagi postingan kamu yang ini, trus mataku jadi berkaca-kaca rinaa..
    aku terharuuu… πŸ˜₯

    rina bikin lagi dong postingan kayak gini, atau ini postingannya dipanjangin aja sampe paling ngga 6 halaman, trus dilombain deh, dari link yang dikasi sama mbip.. πŸ™‚

    -maulidadisapratiwicantik-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s